NILAI WAKTU UANG
A. Future Value of Single SUM (Bunga Majemuk )
A. Future Value of Single SUM (Bunga Majemuk )
Adalah
penjumlahan dari uang pada permulaan periode atau jumlah modal pokok dengan
jumlah bunga yang diperoleh selama periode tersebut.
Rumusan umum
Di
mana :
FVn
= Nilai masa depan investasi n tahun
PV =
Jumlah investasi awal
n =
Jumlah tahun
i =
Tingkat suku bunga
Contoh
kasus :
Alien
menabung di bank sebesar Rp 2.600.000 dengan tingkat suku bunga 6 % setahun.
Maka berapakah jumlah uang Alien pada tahun ke - 3?
B. Present Value of Single SUM ( Nilai Sekarang )
Nilai sekarang atas pembayaran masa depan
Nilai sekarang : –Tingkat
suku bunga majemuk
–Investasi awal
Tingkat diskonto (discount rate) : Tingkat pengembalian atas suatu
investasi beresiko sama yang akan didiskontokan.
Dengan :
PV = Nilai sekarang jumlah
uang dimasa depan
FVn =
Nilai masa depan investasi di akhir th ke n
n =
Jumlah tahun hingga pembayaran diterima
i =
Tingkat diskonto tahunan (bunga)
Contoh kasus :
Andi menabung di bank selama 10 tahun dengan bunga 6% pertahun dan pada
tahun ke – 10 Andi mendapatkan uang sebesar $ 1000. Berapa nilai sekarang dari $ 1000 yang diterima Andi tersebut ?
Penyelesaian :
Anuitas
Anuitas adalah serangkaian pembayaran yang sama untuk jumlah tahun
tertentu
Anuitas :
– Anuitas biasa
Anuitas
dengan pembayaran di akhir periode
– Anuitas jatuh tempo
Anuitas
dengan pembayaran diawal periode
C.
Present
Value Annuity
Menyimpan atau peng-investasi-kan sejumlah uang
yang sama di akhir tahun dan
memungkinkannya tumbuh.
Dengan :
FVn
= Nilai masa depan dengan anuitas di akhir ke n
PMT= pembayaran anuitas yang disimpan atau diterima
Di akhir tiap tahun
n = Jumlah tahun berlangsungnya anuitas
i =
Tingkat diskonto tahunan (bunga)
D.
Futur
Value Annuity
Serangkaian
pembayaran yang sama untuk jumlah tahun tertentu untuk masa depan.
Dengan
PV = Nilai sekarang anuitas masa depan
PMT = Pembayaran anuitas yang disimpan atau diterima di akhir tahun
n = Jumlah tahun
berlangsungnya anuitas
i
= Tingkat diskonto tahunan (bunga)
BEP (BREAK EVEN POIN)
Break even point berarti suatu keadaan dimana perusahaan tidak mengalami laba dan juga tidak mengalami rugi, artinya seluruh biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi itu dapat ditutupi oleh penghasilan penjualan. Total biaya( biaya tetap dan biaya variable) sama dengan total penjualan, sehingga tidak terjadi laba dan juga kerugian.
Titik impas ini terjadi apabila:
BEP (BREAK EVEN POIN)
Break even point berarti suatu keadaan dimana perusahaan tidak mengalami laba dan juga tidak mengalami rugi, artinya seluruh biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi itu dapat ditutupi oleh penghasilan penjualan. Total biaya( biaya tetap dan biaya variable) sama dengan total penjualan, sehingga tidak terjadi laba dan juga kerugian.
Rumus BEP
Pengetahuan akan angka break even ini sangatlah penting dalam melakukan
analisis keuangan, maupun dalam perencanaan laba dan pengambilan keputusan.
Perhitungan break even inidapat dijelaskan melalui contoh sebagai berikut:
Misalkan biaya tetap (fixed cost) Rp 20.000,-, biaya ini dikeluarkan kendatipun
tidak ada penjualan. Biaya variable Rp 1,2 per unit artinya berap unit yang
dijual biaya variabelnya dikalikan Rp 1,2. Bertambah besar volume penjualan
bertambah besar pula biaya variable. Penjualan per unit dimisalkan Rp 2.
Dari data ini dapat
kita cari break even sebagai berikut:
Penjualan adalah harga
x Volume (unit)
Sales
= Price x Quantity
S
= P . Q
S
= Rp 2 . Q
P menggambarkan harga
per unit, Q menggambarkan volume penjualan dalam unit, sedangkan S
menggambarkan nilai total penjualan (sales).
Total biaya adalah
biaya tetap + biaya variable
TC
= FC + VC
Jika FC = Rp 20.000,-
maka : TC = 20.000 + 1,2.Q
Dari rumusan ini kita
dapat membuat rumus break even.
a. Rumus
break even point
Kalau kita ingin
mengetahui total cost atau total penerimaan dari penjualan maka yang diperlukan
hanya volume penjualan dalam unit (Q). setiap jumlah Q akan kita dapat
menghitung sales,total cost, dan juga laba/rugi.
Namun dalam BEP yang
menjadi pegangan bagi kita adalah titik dimana perusahaan tidak mengalami laba
dan tidak mengalami rugi atau istilah lainnya titik IMPAS.
Titik impas ini terjadi apabila:
TR
(Sales) = P. Q
TC
= FC + VC
Jadi pada titik break
even:
Harga
x Kuantitas Penjualan =
biaya tetap + biaya variable
P
. Q =
FC+ VC
P
.Q =
FC + (V . Q )
(P.
Q) – (V. Q) =
FC
Q
(P-V) =
FC
V = harga variable cost
per unit
Jadi :
Q = FC / (P-V)
Dalam rumus dan contoh
di atas maka break even dapat kita hitung sebagai berikut:
Q
= 20.000/(2-1,2)
Q
= 25.000
b.
Metode sederhana
Dari
hasil perhitungan ini dapat diketahui bahwa jumlah yang harus dijual kalau
perusahaan berada pada titik impas (break even) adalah 25.000 unit.
Perhitungan
dengan cara lain dapat dilihat dari table sebagai berikut:
Harga
penjualan adalah Rp 2/unit.
Biaya
variable Rp 1,2
Biaya
tetap Rp 20.000,-
Jumlah unit
1
|
Harga penjualan
2
(1x2)
|
Biaya Tetap
3
|
Biaya variable
4
(1x1,2)
|
Total Biaya
5
(3+4)
|
Laba
6
(2-5)
|
10.000
|
20. 000
|
20.000
|
12.000
|
32.000
|
(12.000)
|
15.000
|
30. 000
|
20.000
|
18.000
|
38.000
|
(8.000)
|
20.000
|
40. 000
|
20.000
|
24.000
|
44.000
|
(4.000)
|
25.000
|
50. 000
|
20.000
|
30.000
|
50.000
|
Break even
|
30.000
|
60. 000
|
20.000
|
36.000
|
56.000
|
4.000
|
35.000
|
70. 000
|
20.000
|
42.000
|
62.000
|
8.000
|
Dari
table ini dapat dilihat bahwa titik break even adalah pada jumlah volume
penjualan sebesar 25.000 unit.
Ini
berarti bahwa apabila penjualan perusahaan 25.000 unit maka perusahaan berada
dalam posisi tidak mendapat laba dan tidak mengalami rugi. Oleh karena itu
kalau ingin beruntung maka usahakan agar penjualan di atas break even tersebut.
D.
Kegunaan Lain dari BEP
Break
even analysis sangat bermanfaat dalam mengetahui hubungan antar cost, volume,
harga, dan laba. Misalnya kita ingin mencapai laba tertentu maka kita akan
dapat mengetahui berapa unit barang yang harus kita jual.
Apabila
misalnya dalam contoh diatas kita ingin laba Rp 8.000,- maka perhitungannya
adalah sebagai berikut:
Pertama
jika tidak ada laba rumusnya:
P
x Q = FC + VC
Kalau
kita ingin laba Rp 8.000,- maka rumusnya :
P
x Q = FC + VC + 8.000
2
Q = 20.000 + 1,2 Q+ 8.000
0,8Q =28.000
Q = 35.000 unit.
Untuk
mendapatkan laba sebesar Rp 8.000,- maka kita harus dapat menjual 35.000 unit atau
volume penjualan harus Rp 70.000,-. Rumus ini bisa juga dipakai dengan harga
per unit, dengan menggunakan rumus tersebut di atas.
Misalnya
kita ingin mendapat laba sebesar Rp 8.000,- tapi menurut manajer penjualan kita
hanya dapat menargetkan penjulaan sebanyak 30.000 unit saja. Jadi berapa harga
per unit yang dapat kita jual (agar keuntungan sebesar Rp 8.000 dengan
penjualan sebanyak 30.000 unit) ?
Untuk
itu gunakan kembali rumusan yang sebelumnya:
P.Q
= FC + VC+ 8.000
P.
30.000 = 20.000+ 0,8(32.500) +8.000
30.000
P = 54.000
P
= 1,8
Jadi
jika kita ambil laba Rp 8.000 dan jumlah unit yang dijual hanya 32.500 unit,
maka harga yang dapat kita ambil adalah sebesar Rp 1,8. Kalau P= 1,8 maka laba
dapat dihitung sebagai berikut:
Sales
(TR) 30.000 x 1,8 =
Rp 54.000,-
Biaya:
Biaya
tetap =
Rp 20.000,-
Biaya
variable 32.500 x 0,8 =
Rp 26.000,-
Total
biaya =
Rp 46.000,-
Laba =
Rp 8.000,-
Kelemahan
Penggunaan BEP
Dalam
pemakaian analisis ini kita harus menyadari keterbatasan yang dikandung model
ini. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Asumsi yang menyebutkan harga jual konstan padahal kenyataannya harga ini kadang-kadang harus berubah sesuai dengan
kekuatan permintaan dan penwaran
di pasar. Untuk menutupi kelemahan itu, maka harus dibuat analisis sensitivitas
untuk harga jual yang berbeda.








