Kamis, 19 Desember 2013

NILAI WAKTU UANG & BEP


NILAI WAKTU UANG
A.   Future Value of Single SUM (Bunga Majemuk )
Adalah penjumlahan dari uang pada permulaan periode atau jumlah modal pokok dengan jumlah bunga yang diperoleh selama periode tersebut.
Rumusan umum


 
        
Di mana :
FVn       = Nilai masa depan investasi n tahun
PV         = Jumlah investasi awal
n           = Jumlah tahun
i             = Tingkat suku bunga


Contoh kasus :
Alien menabung di bank sebesar Rp 2.600.000 dengan tingkat suku bunga 6 % setahun. Maka berapakah jumlah uang Alien pada tahun ke - 3?














B.    Present Value of Single SUM ( Nilai Sekarang )

Nilai sekarang atas pembayaran masa depan
Nilai sekarang :   –Tingkat suku bunga majemuk
–Investasi awal
Tingkat diskonto (discount rate) : Tingkat pengembalian atas suatu investasi beresiko sama yang akan didiskontokan.
                                               










Dengan :
PV   = Nilai sekarang jumlah uang dimasa depan
FVn = Nilai masa depan investasi di akhir th ke n
    = Jumlah tahun hingga pembayaran diterima
i      = Tingkat diskonto tahunan (bunga)

Contoh kasus :
Andi menabung di bank selama 10 tahun dengan bunga 6% pertahun dan pada tahun ke – 10 Andi mendapatkan uang sebesar $ 1000. Berapa nilai sekarang dari $ 1000 yang diterima Andi tersebut ?
        Penyelesaian :
          
Anuitas
Anuitas adalah serangkaian pembayaran yang sama untuk jumlah tahun tertentu
Anuitas :
  Anuitas biasa
    Anuitas dengan pembayaran di akhir periode
  Anuitas jatuh tempo
    Anuitas dengan pembayaran diawal periode

C.    Present Value Annuity
Menyimpan atau peng-investasi-kan sejumlah uang yang sama di akhir tahun dan memungkinkannya tumbuh.


   
 









Dengan :
FVn = Nilai masa depan dengan  anuitas di akhir ke n
PMT= pembayaran anuitas yang disimpan atau diterima
            Di akhir tiap tahun
n     = Jumlah tahun berlangsungnya anuitas
i       = Tingkat diskonto tahunan (bunga)

D.   Futur Value Annuity
Serangkaian pembayaran yang sama untuk jumlah tahun tertentu untuk masa depan.
 






Dengan
PV         = Nilai sekarang anuitas masa depan
PMT      = Pembayaran anuitas yang disimpan atau diterima di akhir tahun
n           = Jumlah tahun berlangsungnya anuitas
i            = Tingkat diskonto tahunan (bunga)

 BEP (BREAK EVEN POIN)
                 Break even point berarti suatu keadaan dimana perusahaan tidak mengalami laba dan juga tidak mengalami rugi, artinya seluruh biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi itu dapat ditutupi oleh penghasilan penjualan. Total biaya( biaya tetap dan biaya variable) sama dengan total penjualan, sehingga tidak terjadi laba dan juga kerugian.
Rumus BEP
            Pengetahuan akan angka break even ini sangatlah penting dalam melakukan analisis keuangan, maupun dalam perencanaan laba dan pengambilan keputusan. Perhitungan break even inidapat dijelaskan melalui contoh sebagai berikut:
            Misalkan biaya tetap (fixed cost) Rp 20.000,-, biaya ini dikeluarkan kendatipun tidak ada penjualan. Biaya variable Rp 1,2 per unit artinya berap unit yang dijual biaya variabelnya dikalikan Rp 1,2. Bertambah besar volume penjualan bertambah besar pula biaya variable. Penjualan per unit dimisalkan Rp 2.
Dari data ini dapat kita cari break even sebagai berikut:
Penjualan adalah harga x Volume (unit)
Sales    = Price x Quantity
S               = P . Q
S               = Rp 2 . Q
P menggambarkan harga per unit, Q menggambarkan volume penjualan dalam unit, sedangkan S menggambarkan nilai total penjualan (sales).
Total biaya adalah biaya tetap + biaya variable
TC        = FC + VC
Jika FC = Rp 20.000,- maka : TC        = 20.000 + 1,2.Q
Dari rumusan ini kita dapat membuat rumus break even.
a.   Rumus break even point
Kalau kita ingin mengetahui total cost atau total penerimaan dari penjualan maka yang diperlukan hanya volume penjualan dalam unit (Q). setiap jumlah Q akan kita dapat menghitung sales,total cost, dan juga laba/rugi.
Namun dalam BEP yang menjadi pegangan bagi kita adalah titik dimana perusahaan tidak mengalami laba dan tidak mengalami rugi atau istilah lainnya titik IMPAS.

Titik impas ini terjadi apabila:
TR (Sales)       = P. Q
TC                            = FC + VC
Jadi pada titik break even:
Harga x Kuantitas Penjualan    =          biaya tetap + biaya variable
P . Q                                                                =          FC+ VC
P .Q                                                                 =          FC + (V . Q )
(P. Q) – (V. Q)                                          =          FC
Q (P-V)                                                         =          FC
V = harga variable cost per unit
Jadi :
Q = FC / (P-V)
Dalam rumus dan contoh di atas maka break even dapat kita hitung sebagai berikut:
Q      = 20.000/(2-1,2) 
Q       = 25.000

b.      Metode sederhana
Dari hasil perhitungan ini dapat diketahui bahwa jumlah yang harus dijual kalau perusahaan berada pada titik impas (break even) adalah 25.000 unit.
Perhitungan dengan cara lain dapat dilihat dari table sebagai berikut:
Harga penjualan adalah Rp 2/unit.
Biaya variable Rp 1,2
Biaya tetap Rp 20.000,-
Jumlah unit
1
Harga penjualan
2
(1x2)
Biaya Tetap
3
Biaya variable
4
(1x1,2)
Total Biaya

5
(3+4)
Laba

6
(2-5)
10.000
20. 000
20.000
12.000
32.000
(12.000)
15.000
30. 000
20.000
18.000
38.000
(8.000)
20.000
40. 000
20.000
24.000
44.000
(4.000)
25.000
50. 000
20.000
30.000
50.000
Break even
30.000
60. 000
20.000
36.000
56.000
4.000
35.000
70. 000
20.000
42.000
62.000
8.000

 Dari table ini dapat dilihat bahwa titik break even adalah pada jumlah volume penjualan sebesar 25.000 unit.
Ini berarti bahwa apabila penjualan perusahaan 25.000 unit maka perusahaan berada dalam posisi tidak mendapat laba dan tidak mengalami rugi. Oleh karena itu kalau ingin beruntung maka usahakan agar penjualan di atas break even tersebut.
D.  Kegunaan Lain dari BEP
Break even analysis sangat bermanfaat dalam mengetahui hubungan antar cost, volume, harga, dan laba. Misalnya kita ingin mencapai laba tertentu maka kita akan dapat mengetahui berapa unit barang yang harus kita jual.
Apabila misalnya dalam contoh diatas kita ingin laba Rp 8.000,- maka perhitungannya adalah sebagai berikut:
Pertama jika tidak ada laba rumusnya:
P x Q         = FC + VC
Kalau kita ingin laba Rp 8.000,- maka rumusnya :
P x Q      = FC + VC + 8.000
2 Q          = 20.000 + 1,2 Q+ 8.000
0,8Q     =28.000
Q               = 35.000 unit.
Untuk mendapatkan laba sebesar Rp 8.000,- maka kita harus dapat menjual 35.000 unit atau volume penjualan harus Rp 70.000,-. Rumus ini bisa juga dipakai dengan harga per unit, dengan menggunakan rumus tersebut di atas.
Misalnya kita ingin mendapat laba sebesar Rp 8.000,- tapi menurut manajer penjualan kita hanya dapat menargetkan penjulaan sebanyak 30.000 unit saja. Jadi berapa harga per unit yang dapat kita jual (agar keuntungan sebesar Rp 8.000 dengan penjualan sebanyak 30.000 unit) ?
Untuk itu gunakan kembali rumusan yang sebelumnya:
P.Q           = FC + VC+ 8.000
P. 30.000 = 20.000+ 0,8(32.500) +8.000
30.000 P  = 54.000
P               = 1,8
Jadi jika kita ambil laba Rp 8.000 dan jumlah unit yang dijual hanya 32.500 unit, maka harga yang dapat kita ambil adalah sebesar Rp 1,8. Kalau P= 1,8 maka laba dapat dihitung sebagai berikut:
Sales (TR)  30.000 x 1,8                                                                    = Rp 54.000,-
Biaya:
Biaya tetap                                                                                                      = Rp 20.000,-
Biaya variable    32.500 x 0,8                                                          = Rp 26.000,-
Total biaya                                                                                                         = Rp 46.000,-
Laba                                                                                                                        = Rp 8.000,-

Kelemahan Penggunaan BEP
Dalam pemakaian analisis ini kita harus menyadari keterbatasan yang dikandung model ini. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Asumsi yang menyebutkan harga jual konstan padahal kenyataannya harga ini kadang-kadang harus berubah sesuai dengan kekuatan permintaan dan                        penwaran di pasar. Untuk menutupi kelemahan itu, maka harus dibuat analisis                                 sensitivitas untuk harga jual yang berbeda.

Depresiasi


Depresiasi adalah penurunan dalam nilai fisik properti seiring dengan waktu dan penggunaannya.
Dalam konsep akuntansi, depresiasi adalah pemotongan tahunan terhadap pendapatan sebelum pajak sehingga pengaruh waktu dan penggunaan atas nilai aset dapat terwakili dalam laporan keuangan suatu perusahaan. Atau proses pengalokasian harga perolehan aktiva tetap menjadi biaya selama masa manfaatnya dengan cara yang rasional dan sistematis.

Depresiasi didasarkan pada 3 faktor :
1.     harga perolehan : biaya yang dikeluarkan sampai aktiva siap digunakan
2.     nilai sisa : jumlah yang akan diterima pada saataktiva itu dijual atau ditarik dari penggunaannya
3.     masa manfaat : jangka waktu pemakaian aktiva yang diharapkan oleh perusahaan.
a.     factor fisik contoh : kerusakan
b.     factor ekonomi
1.       ketidaklayakan : apabila suatu aktiva tidak berguna lagi bagi         perusahaan tertentu karena permintaan akan produk     perusahaan itu telah meningkat.
2.       penggantian, penggantian suatu aktiva dengan aktiva lainnya          yang lebih efisien.



Metode depresiasi
1.   metode garis lurus (straight line method)
berdasarkan metode ini bagian yang sama dari harga perolehan aktiva (diatas nilai sisanya) dialokasikan ketiap periode yang menggunakannya. Biaya depresiasi perperiode dinyatakan sebagai :


 

2. metode unit produksi (unit of production method)
Depresiasi dihitung berdasarkan pada unit output atau unit produksinya missal jam, kg.





3.  metode saldo menurun ganda (double declining method)
Dalam menghitung depresiasi dengan metode ini tidak diakui adanya nilai sisa. Berdasar metode ini tariff depresiasi garis lurus tanpa nilai sisa dikalikan dua dan dipakai untuk menentukan depresiasi saldo menrun ganda dengan cara mengalikan tariff yang telah dikalikan dua tersebut dengan nilai buku aktiva pada tiap awal periode.





4.  metode jumlah angka tahun (sum of year)
Jumlah depresiasi dihitung berdasarkan pada serangkaian angka pecahan yang denominator atau penyebutnya diambil dari jumlah rentetan angka tahun tersebur. Angka tahun yang terbesar digunakan sebagai numerator atau pembilang dari angka pecahan untuk depresiasi tahun pertama.
harga perolehan – nilai sisa x pecahan angka tahun = biaya depresiasi

Istilah - istilah

1.     Basis, atau basis harga: biaya awal untuk mendapatkan aset (harga beli ditambah pajak), termasuk biaya
transportasi dan biaya lain sampai aset tersebut dapat digunakan sesuai fungsinya.
2.     Basis (harga) yang disesuaikan: harga awal aset disesuaikan dengan kenaikan atau penurunan yang
diperkenankan. Misal: biaya perbaikan aset dengan umur manfaat lebih dari setahun meningkatkan
basis harga awal, dan kecelakanna atau kecurian menurunkan harga awal.
3.     Nilai (harga) buku: nilai properti (aset) sesuai dengan laporan akuntansi, yang mewakili jumlah modal yang masih diinvestasikan pada aset tersebut. Sama dengan harga awal (termasuk segala penyesuaian) dikurangi dengan pengurangan karena depresiasi. Nilai buku suatu aset pada akhir
tahun ke-k dirumuskan dengan:


(NILAI BUKU)K=Basis harga yang disesuaikan n - ∑kj=I (pengurang n depresiasi)
 
 
Nilai buku k basis harga yang disesuaikan - pengurangan deresiasi.
4.     Harga pasar: nilai yang dibayar seorang pembeli kepada penjual aset dimana masing-masing mendapatkan keuntungan dan bertindak tanpa paksaan.
5.     Periode perolehan kembali (recovery period): jumlah tahun dimana basis (harga) suatu aset diperoleh kembali melalui proses akuntansi. Disebut juga umur manfaat (klasik) atau kelas properti atau umur kelas.
6.       Tingkat perolehan kembali: persentase untuk setiap tahun periode perolehan kembali, yang digunakan untuk menghitung pengurangan karena depresiasi tahunan.
7.       Nilai sisa: perkiraan nilai aset pada akhir umur manfaatnya, merupakan harga jula suatu aset jika tidak lagi digunakan untuk proses produksi oleh pemiliknya.
8.       Umur manfaat: perkiraan periode waktu pemakaian aset (properti) dalam kegiatan produktif atau untuk menghasilkan pendapatan.